Cinta seindah rumah pohon ( part 10 )
Entah apa yang ada di pikiran tasya saat ini yang membuat ia terus termenung dan terhenyang diatas rumah pohonnya hingga siang berganti senja.
"DOOORRR!" pekik vita mencoba mengageti tasya.
"eh, copot! Satu, dua, tiga!" sentak tasya terkejut.
"pisss" vita tersenyum jahil.
"vita. Lo ngagetin gue aja. Gimana kalau gue sampek jatoh kebawah?!" celoteh tasya tergebu gebu.
"sabar. tarik nafas dulu"
"huh" tasya menghela nafas kasar.
"lo aneh ya. Masa kaget aja sampek ngitung ngitung satu, dua, tiga. Kayak ngetes salon aja tau gak?" cela vita menertawai tasya.
"ketawa deh lo sampek pagi sekalian!" gertu tasya sebal.
"sorry deh, sorry"
"hem" tasya mengangguk perlahan. "oh iya, ngapain lo kesini?" tanya tasya teringat pertanyaan pertama yang harusnya ia katakan dari awal.
"tuh kan gue sampek lupa. Ini loh, gue mau ngajak lo belajar bareng buat ujin akhir" papar vita.
"yaampun gue gak inget sama sekali. Kita ulangan kapan?"
"minggu depan. Gue saranin sama lo nih ya, sebaiknya banyak banyak belajar deh" saran vita yang terkesan serius.
"emang kenapa?" tanya tasya penasaran.
"lo gimana sih?. Lo kan orangnya ling lung" sindir vita tegas.
"vita! Lo kok kejam banget sih sama gue?!" gerang tasya jengkel.
"jadi, lo mau nyalahin gue atau mau langsung belajar aja?" ujar vita mengingatkan.
"iya deh kita belajar sekarang. Tapi tunggu bentar ya gue mau ngambil buku sama camilan dulu."
"camilannya yang banyak ya"
"hu. Tau lo emang cuma makan" canda tasya.
"gak papa dong dari pada perut gue kosong, entar lo yang gue makan"
"ye! Lo mah kalau ngomong nyeremin banget. Gak lucu tau!" gerang tasya sebal.
Selang beberapa menit kemudian....
"vit ini gimana sih caranya?" tanya tasya yang terus menggaruk kasar kepalannya sendiri.
"enggak tau" jawab vita dengan mulut yang penuh dengan coklat hanggat.
"ih! Lo kok dari tadi cuma makan aja sih vit?! Bantuin nyari kek!" gerutu tasya yang sebal dengan tingkah laku temannya itu.
"siapa bilang gue gak nyari? Nih buktinya, sekarang gue lagi nyari" bantah vita.
"nyari apa lo? Perasaan dari tadi lo cuma makan aja"
"ya itu. gue nyariin camilan yang paling enak disini"
"hm. lo nyusahin gue aja"
"jadi gimana udah ketemu belum?"
" belum. bantu mikir kek"
"em.... Aha! Gue punya ide" pekik vita dengan ke2 jari yang ia petikan. " gue tau orang yang pasti bisa bantu kita" ujar vita sambil tersenyum licik kearah tasya.
"kok lo ngeliatin gue gitu amat sih?" tany tasya heran.
"vit. Gue gak berani vit. Lo aja deh" bujuk tasya yang terus vita dorong masuk ke rumah gen.
"udah lah sya buruan. Lo mau kita lulus kan?"
"iya. Tapi gak gini juga"
"udah panggil gen sana" seru vita memerintah.
"enggak ah"
"sana panggil. GEN!!!" pekik vita pada akhirnya.
"vit, vit. Sumpah vit, gue gak berani"
"ckrek"
"ada apa?" tanya gen yang baru muncul dari arah pintu masuk
" Gak. gak papa" sentak tasya terkejut.
"eh kok gak ada sih? Kita kan kesini mau....." dengan sigap, tasya langsung menutup mulut vita dengan ke2 tangannya.
"WOI! kalian itu mau apa sih?! kalau gak ada gue mau masuk" gerang gen sebal.
"eh! gen tunggu!" panggil tasya sesaat setelah gen melangkah masuk kerumahnya
"hmem" gen kembali menatap tasya dengan alis setengah terangkat.
"nih" tasya menyodorkan sebuah buku kearah gen.
"maksudnya?"
"please" pinta tasya dengan kedua mata terpejam yang kemudian terbuka dengan perlahan.
Beberapa saat kemudian.....
"3x9x45-72:6+(-x)=......." gen terus menerus menjelaskan soal pelajaran yang akan mereka hadapi minggu depan kepada tasya dan vita. sedangkan tasya dan vita hanya memperhatikan wajah gen tanpa mendengarkan penjelasannya sedikit pun.
"WOI! denger gak sih?!"
"ha? Apa tadi?"
"ha?! Gue nyerocos dari tadi dan kalian cuma bilang HA?! Kalian itu merhatiin apa sih?!" gertak gen emosi.
"merhatiin lo" jawab tasya dan vita secara bersamaan.
"kalian merhatiin apa?!"
"ha? Enggak kok gak merhatiin apa apa" jawab tasya canggung.
"emghm. Yakin?...." goda gen dengan tatapan menggodanya.
"i... Iya kok" jawab tasya gelagapan.
"oh. Yaudah, nih kerjain" seru gen seraya memberikan beberapa lembar kertas putih.
"apa?"
"lo gak denger? KERJAIN"
"iya gue denger tapi ini apa?"
"ini contoh soal buat ujian akhir" ujar gen memperjelas kembali ucapannya.
"ha! Serius lo?" sentak tasya dan vita yang langsung menarik kertas tersebut dari tangan gen.
"cepet kerjain. Jam 5 kita bahas" Papar gen dengan ke2 tangan yang ia lipat setinggi dada.
"ha?! Tapi kan ini udah jam 3 gimana mau selesai?" keluh tasya merengek manja.
" kalau gak mau juga gak papa kok. TAPI, kalau gak lulus jangan salahin gue" ujar gen yang kemudian beranjak pergi.
"vit. Bantuin kek" bujuk tasya
"gak ah. gue gak ngerti."
"ya usah dulu kek"
"nanti gue usaha kok tenang aja"
"usaha apa?"
"em... Buka butik mungkin" jawab vita asal.
"ih! Lo mah becanda mulu!" keluh tasya.
"gen" tasya menatap kearah gen yang sedang membaca novel love storynya dengan wajah memelas.
"liat contohnya dulu" saran gen memberatkan suaranya.
"tuh sya benerkan kata gue. Liat contohnya dulu baru kerjain." ujar vita membusungkan dada.
"kapan lo bilang?"
"barusan"
"terserah lo deh vit. gak ngerti gue sama hidup lo"
"sama gue juga gak ngerti hidup gue sendiri" umpat vita.
"30 menit lagi kita bahas" sambar gen menyeru.
"cepet, cepet, cepet" gumam vita tergesa gesa.
Matahari mulai terlihat menjauh hingga terlihat langit senja yang berwarna kekuningan diatas kepala.
"akhirnya selesai juga" hela tasya dan vita secara bersamaan dengan kedua tangan yang direntangkan diatas meja.
"masih 5 menit lagi nih, gue merem bentar ya" ujar vita yang tampak sangat kelelahan.
Dari kejauhan terlihat gen yang terus memperhatikan gerak gerik tasya dengan segores senyum di wajahnya.
"dasar cewek ling lung" gumam gen dengan beberapa kali menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.
"lagi merhatiian apa anak mama ini?" goda tante nina sambil menepuk pundak kiri gen.
"eh mama. enggak kok. gak ada apa apa" jawab gen gemetar.
"em. gengsi sama mama sendiri." sindir tante nina. "coba bilang kenapa merhatiin yang di sana terus?"
"enggak kok mah. genta cuma....."
"cuma apa? cuma jatuh cinta?"
"ya ampun mah. inget umur dong"
"emangnya kenapa? gak suka?"
"buka"
"berarti iya"
"enggak juga"
"tapi....."
"ya... gak ada apa apa."
"yakin?"
"i...i...iya" jawab gen dengan rasa sedikit ragu.
"awas keburu diambil orang" bisik tante nina seraya beranjak pergi.
"apaan sih ma"
tak satu katapun dapat terucap saat kau jatuhkan senyummu padaku.
mata indahmu selalu memanggilku tuk memilikimu.
karenamu aku dapat menjadi orang teregois di dunia.
yang hanya ingin memilikimu seorang diri.
hanya ingin melihat tawamu disetiapa aku bersamamu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"DOOORRR!" pekik vita mencoba mengageti tasya.
"eh, copot! Satu, dua, tiga!" sentak tasya terkejut.
"pisss" vita tersenyum jahil.
"vita. Lo ngagetin gue aja. Gimana kalau gue sampek jatoh kebawah?!" celoteh tasya tergebu gebu.
"sabar. tarik nafas dulu"
"huh" tasya menghela nafas kasar.
"lo aneh ya. Masa kaget aja sampek ngitung ngitung satu, dua, tiga. Kayak ngetes salon aja tau gak?" cela vita menertawai tasya.
"ketawa deh lo sampek pagi sekalian!" gertu tasya sebal.
"sorry deh, sorry"
"hem" tasya mengangguk perlahan. "oh iya, ngapain lo kesini?" tanya tasya teringat pertanyaan pertama yang harusnya ia katakan dari awal.
"tuh kan gue sampek lupa. Ini loh, gue mau ngajak lo belajar bareng buat ujin akhir" papar vita.
"yaampun gue gak inget sama sekali. Kita ulangan kapan?"
"minggu depan. Gue saranin sama lo nih ya, sebaiknya banyak banyak belajar deh" saran vita yang terkesan serius.
"emang kenapa?" tanya tasya penasaran.
"lo gimana sih?. Lo kan orangnya ling lung" sindir vita tegas.
"vita! Lo kok kejam banget sih sama gue?!" gerang tasya jengkel.
"jadi, lo mau nyalahin gue atau mau langsung belajar aja?" ujar vita mengingatkan.
"iya deh kita belajar sekarang. Tapi tunggu bentar ya gue mau ngambil buku sama camilan dulu."
"camilannya yang banyak ya"
"hu. Tau lo emang cuma makan" canda tasya.
"gak papa dong dari pada perut gue kosong, entar lo yang gue makan"
"ye! Lo mah kalau ngomong nyeremin banget. Gak lucu tau!" gerang tasya sebal.
Selang beberapa menit kemudian....
"vit ini gimana sih caranya?" tanya tasya yang terus menggaruk kasar kepalannya sendiri.
"enggak tau" jawab vita dengan mulut yang penuh dengan coklat hanggat.
"ih! Lo kok dari tadi cuma makan aja sih vit?! Bantuin nyari kek!" gerutu tasya yang sebal dengan tingkah laku temannya itu.
"siapa bilang gue gak nyari? Nih buktinya, sekarang gue lagi nyari" bantah vita.
"nyari apa lo? Perasaan dari tadi lo cuma makan aja"
"ya itu. gue nyariin camilan yang paling enak disini"
"hm. lo nyusahin gue aja"
"jadi gimana udah ketemu belum?"
" belum. bantu mikir kek"
"em.... Aha! Gue punya ide" pekik vita dengan ke2 jari yang ia petikan. " gue tau orang yang pasti bisa bantu kita" ujar vita sambil tersenyum licik kearah tasya.
"kok lo ngeliatin gue gitu amat sih?" tany tasya heran.
"vit. Gue gak berani vit. Lo aja deh" bujuk tasya yang terus vita dorong masuk ke rumah gen.
"udah lah sya buruan. Lo mau kita lulus kan?"
"iya. Tapi gak gini juga"
"udah panggil gen sana" seru vita memerintah.
"enggak ah"
"sana panggil. GEN!!!" pekik vita pada akhirnya.
"vit, vit. Sumpah vit, gue gak berani"
"ckrek"
"ada apa?" tanya gen yang baru muncul dari arah pintu masuk
" Gak. gak papa" sentak tasya terkejut.
"eh kok gak ada sih? Kita kan kesini mau....." dengan sigap, tasya langsung menutup mulut vita dengan ke2 tangannya.
"WOI! kalian itu mau apa sih?! kalau gak ada gue mau masuk" gerang gen sebal.
"eh! gen tunggu!" panggil tasya sesaat setelah gen melangkah masuk kerumahnya
"hmem" gen kembali menatap tasya dengan alis setengah terangkat.
"nih" tasya menyodorkan sebuah buku kearah gen.
"maksudnya?"
"please" pinta tasya dengan kedua mata terpejam yang kemudian terbuka dengan perlahan.
Beberapa saat kemudian.....
"3x9x45-72:6+(-x)=......." gen terus menerus menjelaskan soal pelajaran yang akan mereka hadapi minggu depan kepada tasya dan vita. sedangkan tasya dan vita hanya memperhatikan wajah gen tanpa mendengarkan penjelasannya sedikit pun.
"WOI! denger gak sih?!"
"ha? Apa tadi?"
"ha?! Gue nyerocos dari tadi dan kalian cuma bilang HA?! Kalian itu merhatiin apa sih?!" gertak gen emosi.
"merhatiin lo" jawab tasya dan vita secara bersamaan.
"kalian merhatiin apa?!"
"ha? Enggak kok gak merhatiin apa apa" jawab tasya canggung.
"emghm. Yakin?...." goda gen dengan tatapan menggodanya.
"i... Iya kok" jawab tasya gelagapan.
"oh. Yaudah, nih kerjain" seru gen seraya memberikan beberapa lembar kertas putih.
"apa?"
"lo gak denger? KERJAIN"
"iya gue denger tapi ini apa?"
"ini contoh soal buat ujian akhir" ujar gen memperjelas kembali ucapannya.
"ha! Serius lo?" sentak tasya dan vita yang langsung menarik kertas tersebut dari tangan gen.
"cepet kerjain. Jam 5 kita bahas" Papar gen dengan ke2 tangan yang ia lipat setinggi dada.
"ha?! Tapi kan ini udah jam 3 gimana mau selesai?" keluh tasya merengek manja.
" kalau gak mau juga gak papa kok. TAPI, kalau gak lulus jangan salahin gue" ujar gen yang kemudian beranjak pergi.
"vit. Bantuin kek" bujuk tasya
"gak ah. gue gak ngerti."
"ya usah dulu kek"
"nanti gue usaha kok tenang aja"
"usaha apa?"
"em... Buka butik mungkin" jawab vita asal.
"ih! Lo mah becanda mulu!" keluh tasya.
"gen" tasya menatap kearah gen yang sedang membaca novel love storynya dengan wajah memelas.
"liat contohnya dulu" saran gen memberatkan suaranya.
"tuh sya benerkan kata gue. Liat contohnya dulu baru kerjain." ujar vita membusungkan dada.
"kapan lo bilang?"
"barusan"
"terserah lo deh vit. gak ngerti gue sama hidup lo"
"sama gue juga gak ngerti hidup gue sendiri" umpat vita.
"30 menit lagi kita bahas" sambar gen menyeru.
"cepet, cepet, cepet" gumam vita tergesa gesa.
Matahari mulai terlihat menjauh hingga terlihat langit senja yang berwarna kekuningan diatas kepala.
"akhirnya selesai juga" hela tasya dan vita secara bersamaan dengan kedua tangan yang direntangkan diatas meja.
"masih 5 menit lagi nih, gue merem bentar ya" ujar vita yang tampak sangat kelelahan.
Dari kejauhan terlihat gen yang terus memperhatikan gerak gerik tasya dengan segores senyum di wajahnya.
"dasar cewek ling lung" gumam gen dengan beberapa kali menggelengkan kepala sambil tertawa kecil.
"lagi merhatiian apa anak mama ini?" goda tante nina sambil menepuk pundak kiri gen.
"eh mama. enggak kok. gak ada apa apa" jawab gen gemetar.
"em. gengsi sama mama sendiri." sindir tante nina. "coba bilang kenapa merhatiin yang di sana terus?"
"enggak kok mah. genta cuma....."
"cuma apa? cuma jatuh cinta?"
"ya ampun mah. inget umur dong"
"emangnya kenapa? gak suka?"
"buka"
"berarti iya"
"enggak juga"
"tapi....."
"ya... gak ada apa apa."
"yakin?"
"i...i...iya" jawab gen dengan rasa sedikit ragu.
"awas keburu diambil orang" bisik tante nina seraya beranjak pergi.
"apaan sih ma"
tak satu katapun dapat terucap saat kau jatuhkan senyummu padaku.
mata indahmu selalu memanggilku tuk memilikimu.
karenamu aku dapat menjadi orang teregois di dunia.
yang hanya ingin memilikimu seorang diri.
hanya ingin melihat tawamu disetiapa aku bersamamu.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Post a Comment for "Cinta seindah rumah pohon ( part 10 )"