Cinta seindah rumah pohon (part 11)
Pagi kembali singgah dengan mentarinya yang menyingsih dikala embun dingin yang perlahan pergi meninggalkan panas sang surya yang menari nari di atas penat.
Gugup seakan berteman akrab dengan gusar yang terus menghantui ruang ujian para siswa kelas 12 yang akan menjalani ujian akhir sekolah mereka.
Tap,tap,tap!
Ketegangan semakin menderau hati ketika langkah kaki guru pengawas mulai terdengar jelas mendekati ruang ujian. Hampir setiap siswa merasakan keresahan terutama pada mereka yang telah mendapatkan nilai merah sejak awal.
"Kalian punya waktu beberapa jam sebelum bel istirahat berbunyi. Sebelum itu saya mau kalian mengerjakan ujian dengan sungguh sungguh dan mendapat nilai sesuai harapan. Kalian mengerti?!" Tukas seorang guru pengawas dengan tegas memberikan penjelasan. Lalu mulai membagikan lembar soal pada setiap siswa dengan tatapan tegas memberi perintah dimulainya ujian.
30 menit telah berlalu. Namun belum satu pun soal tasya kerjakan. jangankan menyelesaikan soal, bahkan ia belum melihat sola ujiannya sama sekali.
Tap!
Gen berdiri meninggalkan posisi duduknya. Kemudian beranjak ke meja guru untuk menaruh secarik kertas ujian yang ia kerjakana secara tuntas. Kemudian ia menatap tasya yang masih merunduk lemas dengan keringat yang terus runtuh membasahi wajahnya.
Gen mengambil langkahnya menuju ke arah seorang gadis yang terduduk lemas tak berdaya.
"Tenang aja soalnya mudah mudah kok. Lo masih ingat soal yang gue ajarin kemarin kan?" Lirih gen memandang tasya dengan sekelimat senyum di wajahnya seakan memberikan keyakinan pada tasya.
Beberapa saat kemudian gen telah meninggalkan kelas dengan jendela kacam berwarna bening di setiap sudutnya.
"Huh" tasya mengambil nafas perlahan. lalu mengambil pensil dan kertas ujiannya dan mulai mengerjakan soal ujian akhir sekolahnya walau dengan sedikit rasa cemas menyelimuti pikirannya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Beberapa minggu kemudian detik detik pengumuman hasil ujian akhir akan segera di umumkan. Para siswa kembali merasakan ke gugupan yang sama saat ujian akan diumumkan.
Gemuruh para siswa mulai terdengar riuh di antara mading sekolah dan kelas para murid tingkat 3. Beberapa guru telah hadir untuk menempelkan hasil ujian di mading sekolah sambil memasang segores senyum simpel seakan memberikan isyarat baik pada para siswa.
Dgh,dgh,dgh!
Jantung mulai berdegup seolah akan gugur dari dada. Tasya terus memegangi dadanya dengan pikiran buruk yang terus terngiang di kepalanya. Ia masih menutup matanya dengan ragu.
Dap!
Tasya menabrak seseorang di hadapannya.
"Aduh" tasya memekik kesakitan.
"Lo gak apa apa kan?" Tanya seseorang yang barusan tasya tabrak.
"Iya gak apa apa." Jawab tasya sembari mengangkat kepalanya menatap seseorang yang telah ia tabrak. Gen telah berada dihadapannya dengan tatapam ceria ke arah tasya.
"Lo udah liat hasil ujiannya?"
Tasya menggelang lemas. Seketika, gen menarik tangan tasya dan membawanya ke depan mading sekolah.
"Aaaa! Gue lulus." Pekik tasya kegirangan mengatakannya pada gen dan tanpa sadar ia telah mendekap tubuh gen dalam pelukannya. "Sorry" tasya merunduk malu dengan wajah mulai memerah malu.
"Enggak.... apa apa kok" jawab gen menggaruk garuk kepala.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Post a Comment for "Cinta seindah rumah pohon (part 11)"