Cinta seindah rumah pohon (part 9)
Perlahan tasya mulai membuka ke2 matanya. wajahnya terlihat sangat pucat karna seharian berada ditengah hutan dingin itu.
"sya. lo udah siuman?" panggil vita.
"gue gak lagi ada di surga kan?"
"ya kalik lo di surga. berarti gue juga udah mati dong" tukas vita
"emang gue diamana sih?" tanya tasya sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"lo dirumah sakit. dari kemarin lo pingsan"
"aw. kepala gue pusing" keluh tasya sembari mengingat kejadian yang menimpanya kemarin.
"makanya lo jangan banyak mikir dulu. lagian, belagu sih lo. sok mau kabur dari rumah, eh pulangnya malah kerumah sakit" celoteh vita agak berlebihan.
"huh" tasya menghela nafas sesaat "ehm. ambilin gue minum dong" pinta tasya dengan suara yang terdengar serak. selama 2 hari ini ia tidak makan dan minum.
"iya deh gue ambilin" vita menuangkan segelas air untuk tasya "nih" vita menyodorkan gelas berisi air itu pada tasya.
tasya meneguk air tersebut hingga telak.
"lagi dong" pinta tasya kembali. seraya memberikan gelas air yang telah kosong itu pada vita.
"yaampun. kayaknya lo bener bener haus ya" vita memandang gelas itu dengan tatapan heran.
"nih" vita menyodorkan lagi segelas air.
"thank's" ucap tasya. lalu kembali meneguk air tersebut.
"untung aja kemarin si gen langsung nyariin lo. kalau gak, gak tau deh lo bakal jadi apa sekarang"
"glek" tasya tersedak mendengar ucapan vita.
"sya lo gak papa kan?"
"gak, gak. gue gak papa. emm.... vit, k.... kok gen bisa tau?" umpat tasya terbata bata.
"oh itu, gue yang cerita"
"cerita? y... yang bagian mana?"
"em.... yang mana ya? kayaknya semuanya deh"
"mampus gue" tasya menepuk pelan jidadnya. " lo ngapain sih cerita sampek keseluruhan gitu?"
"ya lo juga sih. gue kan kemarin bilang, denger denger mereka pacaran gak tau bener atau enggak"
"mau bener atau gak, yang jelas gue udah hampir lewat gara gara gosip lo itu" gerutu tasya.
"itu sih urusan lo."
"uh! gue gak tau deh mau ngomong apa" keluh tasya menekuk wajahnya.
"ya lo bilang aja, gen yang tersayang, maaf ya buat sikap gue sama lo selama ini. terus dia bakal jawab, iya gak papa kok gue maafin. lalu dimulailah adegan kissing. kan gampang" papar vita asal bicara.
"gampang gampang. endas mu gampang! coba lo yang jadi gue"
"ya gue seneng lah. gue bakal bilang itu sama gen, terus dia bakal kasih gue ciuman hangatnya. em.......menyenangkan"
"ngayal lo" tasya menempeleng jidad vita.
"ye. ngayal dikit gak papa kalik"
"tok tok tok" suara ketukan pintu itu memecah keributan diantara tasya dan vita.
"masuk aja" ucap tasya pada seseorang yang berada di depan pintu masuk ruangannya.
"ckrek" pintu itu terbuka.
"gen" gumam tasya yang merasa sedikit terkejut melihat gen telah bereda dihadapan.
"lo udah siuman?" tanya gen dingin.
"iya" jawab tasya gugup.
"bagus deh"
"gen, soal kemarin...." tasya mengalih-kan pandangannya kearah vita.
"eh, kayaknya gue ada urusan mendadak. gue keluar dulu ya bye" ucap vita seraya pergi dari ruangan itu dengan gen dan tasya disana.
"lo mau bilang apa tadi?" tanya gen sembari menaruh keranjang buah yang dibawanya keatas meja.
"eh, enggak. gue cuma mau bilang makasih soal yang kemarin" gumam tasya dengan wajah merunduk.
"makasih. makasih! lo nyusahin gue tau gak!" pekik gen emosi.
"loh, lo kok malah nyolot gitu sih?"
"ya iyalah. lo pikir enak apa nyariin lo di hutan, gelep, harus gendong lo balik lagi!"
"gue juga jadi gini karena lo!"
"karena gue? emang gue nyuruh lo pergi kehutan itu?! yang ada lo nyusahin gue! itu aja yang gue tau!"
"gue emang bodoh ya. gak bisa jaga diri gue sendiri. samek harus nyusahin cowok orang lain." keluh tasya sesenggupan.
untuk sesaat, tasya merasakan kehangatan tubuh gen yang tiba tiba memeluk erat tubuhnya.
"gue harap lo gak percaya sama gosip gosip itu. karena cuma lo, cuma lo yang gue sayang." ujar gen dengan alunan lembutnya.
"lo..... bilang apa gen?" tanya tasya terperangak.
"iya sya. lo satu satunya alasan kenapa gue mau balik ke jakarta" papar gen yang telah menggenggam erat ke2 tangan tasya.
"lo serius?"
"seriburius gue jabanin buat lo" goda gen tersenyum manis.
"tapi lo selalu kasar sama gue. dan kayaknya cuma sama gue aja yang lo kasar" kata tasya memanyunkan wajahnya.
"oh ya?"
"ya"
" perasaan lo aja kalik"
"gak tau. yang gue tau lo beda"
"beda apanya?"
"ya..... gitu deh" tasya tersipu malu.
"hem" gen tersenyum.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"ha?! serius lo sya?! demi apa?!" pekik vita yang terus menyimak cerita tasya di rumah sakit beberapa hari yang lalu.
"demi apapun gue rela." jawab tasya dengan penuh penghayatan.
"yah. sayang dong gue pergi. gak liat langsung gak asyik" keluh vita kecewa.
"tapi gak papa. Berkat lo keluar, gen jadi berani meluk gue"
"ah. Iri gue"
"jangan sedih, nanti gue ajarin cara ngegait cowok."
"eh. Tapi lo bener udah jadian sama gen?" tanya vita penasaran.
"emm.... Belum sih...."
"yah, kok belum? Nunggu apa lagi?"
"ih vita. semuanya itu perlu dihayatin tau. dijalanin aja dulu"
"jalan, jalan. nyungsep baru tau rasa."
"emm... jalannyakan pelan pelan. jadi gak bakal nyungsep segala"
"iya gak nyungsep. cuma gen lo bisa ditenteng cewek lain"
"kok lo ngomongnya gitu sih?! ngeselin lo!"
"emhm. kesel ya gue digait cewek lain?" pancing gen perlahan menghampiri tasya.
"e... lo nguping?" tanya tasya gelagapan.
"enggak" jawab gen santai.
"huh" tasya menghela nafas lega.
"gue cuma gak sengaja aja denger" lanjut gen.
"ha? dari bagian mana?" tanya tasya mulai gemetar canggung.
"pas kalian udah mulai kayak orang oon kalik"
BEJAT!!!
"oh. jadi lo ngatain gue oon gitu?! ok. makasih atas hinaan lo yang kesekian kalinya!" cela tasya yang kemudian bangkit dari bangkunya dan mulai beranjak pergi.
"eh, mau kemana?" tanya gen manja.
"bukan urusan lo!" jawab tasya jutek.
"tap" serentak gen langsung menarik tangan tasya hingga membuat tasya terduduk kembali kebangkunya.
"jangan jauh jauh ah. entar lo ilang lagi, gue yang repot"
"gue...."
seketika, gen langsung mencim pipi tasya sebelum tasya sempat melanjutkan ucapannya.
"ha?" tasya terkejut dengan pipinya yang merah merekah.
"ehm. riwayat makan makan nih" sindir vita.
"gampang" jawab gen sambil merangkul pundak tasya. sementara tasya hanya terdiam membisu antara bingung dan tak percaya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"tap tap tap..." tasya melangkahkan kakinya kearah parkiran sekolah. tiba tiba, sebuah mobil melaju kencang kearah tasya hingga membuatnya jatuh tersungkur.
"aw" tasya merintih kesakitan.
"tap tap tap." seseorang melangkah kearah tasya.
"dara!"
"iya! kenapa?! takut lo?! lo pikir gue sebogok lo?! apa lo pikir gue gak tau apa yang terjadi dikelas? gak mungkin gue mau biarin gen sama cewek begok kayak lo"
"dara!lo keterlaluan ya! apa lo pikir gen mau sama lo? apa lo pikir dia mau sama cewek agresif dan suka maksain kehendak kayak lo?!" gerang tasya balik membentak dara.
"oh, lo berani nyolot sama gue?!"
"kenapa? lo mau ngancem gue lagi? gak akan ngaruh. gue gak akan nyerah sama lo" seka tasya seraya pergi meninggalkan dara.
Tasya terus berjalan dengan wajah merunduk tegang bercampur emosi. Tanpa ia sadari seseorang telah berdiri tegak dihadapannya.
"DUAK" tanpa tasya sadari, ia telah menabrak sesuatu dihadapannya.
"aduh!" pekik tasya sedikit emosi.
"sinih gue bantu" sentak seorang pria sembari menjulurkan tangan kanannya.
"GAK PERLU!" jawab tasya ketus.
"yakin gak mau dibantu?" papar pria tersebut seraya merendahkan tubuhnya untuk membantu tasya.
"eh. Lo gen."
"aneh ya lo. Selain ling lung, lo juga ceroboh tau gak" celoteh gen yang tetap menjatuhkan pandangan indahnya pada tasya.
"apa lo bilang?!" sentak tasya gusar.
"gak papa. Lo cantik hari ini" goda gen
em... Mau muji gue pakek trik
Pribadi gue sendiri. Tapi gak
Papalah seenggaknya gue jadi
ngerasa nyaman sekarang.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Post a Comment for "Cinta seindah rumah pohon (part 9)"