Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

cinta seindah rumah pohon ( part 8 )

Didalam mobil sport biru gen itu, tasya dan gen terlihat diam membisu. Seperti biasa hanya ada rasa bosan dirasakan tasya. Dengan gen yang selalu serius memperhatikan laju mobilnya.

tuhkan dia diem lagi kayak
tentara
magang aja. padahal kalau gak
jalan sama gue kayaknya happy
banget bawa mobil kebut kebutan.
lah ini, jalan ngalahin kura kura
molor. LEMOT!




"lo serius amat sih gen. agak cepet ngapa?" celoteh tasya mengeluh sebal.
"lo nyuruh gue ngebut gitu?"
"ya... begitulah kira kira"
"em... kalau gue tabrakin pohon mau?"
"ye.... jalan sama lo mah sama aja. gue tetep telat masuk kelas."
"emang gue pernah buat lo telat?"
"em..... mungkin"
"mungkin?"
"au ah. gue lupa"
"udah lah bilang aja. lo mau nyontek pr sama vita kan?" cela gen.
"kok jadi bawa bawa pr sih? vita kan juga nyontek kali. lagian gue gak nyontek kok" bantah tasya.
"yakin?"
"ya. gue gak pernah nyontek. cuma...."
"cuma apa?"
"nyalin doang" jawab tasya memelan-kan suaranya.
"hmem" gen tersenyum. "gimana yang kemarin?" ia mengubah topik pembicaraan.
"yang.... kemarin?"
"iya. yang kemarin. gimana, suka?"
"suka. suka. bunganya bagus bagus. apa lagi... bunga mawarnya" jawab tasya sedikit canggung.
"syukur deh kalau lo suka" ujar gen memandang manis tasya.

jujur gen, gue ngerasa takut.
takut
kalau ada di deket lo. tapi gue juga
takut kalau gue harus kehilangan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"jadi, gen sama tasya sering berangkat bareng?!" cakap dara dengan beberapa teman sekelas tasya.
"bukan cuma berangkat. tapi pulang balik. kemanapun tasya pergi. ya... seakan akan dia jadiin gen supir pribadinya gitu."
"wah. nih anak harus dikerjain nih" gerutu dara jengkel.
"mungkin lo harus ngelabrak dia lagi ra" saran seorang siswi.
"gak. gue gak mau ngambil resiko itu. bisa bisa gen tambah benci sama gue."
"tapi gimana kalau lo ngerjain dia dari belakang?"
"emm.... boleh juga"
"tapi masalahnya, gen selalu ada dideket tasya. jadi dia pasti bakal tau kalau lo mau ngerjain tasya." sahut siswi lainnya.
"gimana kalau.... tasya taunya semua ini berasal dari gen?"
"dari gen?"
"iya. dari GEN" dara memasang senyum liciknya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"beberapa hari belakangan ini, hubungan antara gen dan tasya terlihat lebih dekat dari sebelumnya. walau sangat jarang sekali gen tersenyum pada tasya, tapi mereka tetap terlihat bersama.
"eh gen, entar anterin gue beli cd ya. ada film baru yang mau gue tonton" pinta tasya manja.
"gimana ya?"
"ayo lah gen. gue gak bakal lama kok"
"yakin gak bakal lama?" tanya gen curiga.
"please"
"iya!" gerutu gen yang tak tahan melihat tampang memelas tasya.
"yes!" tasya mengepalkan tangannya.
"eh. liat tuh si PHO" bisik beberapa siswi dari arah belakang gen dan tasya.
"iya tuh. gue juga denger. lagi hot hot nya." sahut siswi lainnya.
"gen, mereka ngomongin siapa ya?" tanya tasya penasaran.
"gak tau" jawab gen singkat.
"gue tanya ya" ujar tasya seraya bangkit dari posisi duduknya.
"eh. udah gak usah" cegah gen, menahan lengan tasya.
"emang kenapa? lo tau?"
"gak" jawab gen datar.
"yaudah, biar gue tanya aja dulu kemereka. jadi lo juga bisa tau kan"
"udah gak usah. biar gue aja yang nyari tau." jawab gen yang kemudian malah membuka lembar demi lembar halaman novelnya.
"kok lo malah diem aja?"
"ya entaran aja ngapa? kayak yang besok gak ada waktu aja!" cela gen.
"yaudah kalik gak perlu marah juga kan" tasya menekuk bibirnya perlahan

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

"yup! sudah selesai!" pekik tasya yang berdiri tegak dihadapan cermin besar dengan mengenakan kaos biru dan terusan jeans hitam yang ia padukan dengan pita rambut biru dikepalanya.
"dddeeerrrttttt!!!" handphone tasya tiba tiba berdering diatas tempat tidurnya.
"siapa lagi sih yang nelphone? nyebelin banget!" gumam tasya sembari menjawab panggilan dari handphone-nya.
"halo" sapa seseorang dari sebrang sana. suara yang sudah tak asing lagi bagi tasya.
"halo ada apa vit?" tanya tasya sembari menuruni anak tangga rumahnya satu persatu.
"gue punya kabar baru. lo pasti bakal kaget denger ini semua"
"em, ya. gue kaget. hahaha" canda tasya.
"sya. gue serius"
"yaudah cepet bilang. gue lagi buru buru nih" ucap tasya seraya membuka pintu depan rumah. dan mulai melangkah keluar. "uh. dia belum dateng lagi." keluh tasya beberapa kali menjinjitkan kakinya untuk memandang kearah rumah gen.
"tasya! lo dengerin gue gak sih?!" jerit vita dari sebrang sana.
"iya vita"
"lo dengerin ya. jangan kaget"
"iya iya"
"gue denger denger sih, anak anak bilang...." vita menghentikan ucapannya.
"anak anak bilang apa?" tanya tasya penasaran.
"mereka bilang... kalau... gen sama dara... udah jadian."
"apa?!" tasya terkejut setengah mati hingga kehilangan satu persatu kata katanya.
"prak!" tasya menjatuhkan handphonenya dari denggaman tangannya yang sudah tak berdaya menahan rasa canggung itu.
"tasya? lo denger gue? halo?" panggil vita dari sebrang sana.
"tap tap tap..." dengan tatapan kosong, tasya melangkahkan kakinya tanpa arah dan tujuan yang jelas. satu persatu air matanya mulai menetes membasahi pipi lembutnya.

kenapa gen? lo yang udah belain
gue dari dia, tapi kenapa
sekarang
lo malah nyakitin gue karena
orang yang sama? gue sakit gen.
gue gak bisa terima ini.

kenapa saat aku mulai tertarik padamu,
Kau justu pergi menjauh dariku?
mengapa saat aku mulai mencintamu,
kau malah pergi menjauh dariku?

"tttiiinnn!!!" klakson mobil gen mulai terdengar nyaring dari halaman depan rumah tasya.
"nih anak lama banget sih!" gerang gen sambil beberapa kali menjatuh-kan pandangan kearah arloji hitam miliknya. "gue samperin aja deh"
"ckrek" gen membuka pintu mobilnya.
"em... Gak deh. Entar dia malah ngajakin gue ribut lagi" ucap gen meralat kembali keputusannya. "gue tunggu aja disini. Ah! Lama. Gue samperin aja deh" gen memutuskan untuk turun dari mobilnya dan melangkah kearah rumah tasya.
"tok tok tok" gen mengetuk pintu rumah tasya beberepa kali.
"ckrek" bunda membuka pintu masuk untuk gen.
"eh, genta. Ada apa?" tanya bunda lembut.
"eng.... Tasyanya ada tante?"
"loh. Tadi dia pamitnya mau jalan sama kamu"
"iya sih tan, tapi kita belum ketemu" jawab gen.
"ha? Jadi tasya kemana?"
"ada apa ini?" tanya ayah tasya yang baru pulang dari kantor.
"tasya yah...." ucap bunda yang tak dapat melanjutkan kata katanya.
"iya. Tasya kenapa? Genta kenapa?" tanya ayah tasya cemas.
gen terdiam sejenak. Lalu menggeleng-kan kepalanya.
"deeeerrrtttt" handphone gen tiba tiba berdering.
"sebentar om" gen meminta izin untuk mengangkat handphone-nya sejenak.
"halo gen" sapa seorang gadis dari sebrang sana.
"iya vit. Ada apa?" tanya gen acuh tak acuh.
"tasya ada dirumah gak?" tanya vita tergebu gebu.
"kita juga lagi nyariin dia. Tunggu. Lo tau tasya ngilang?" tukas gen curiga.
"em... sebenernya... tadi gue udah cerita sama dia" ucap tasya dari kejauhan.
"cerita apaan?"
"soal... Gosip itu"
"gosip apa?!"
" sama dara"
"terus?"
"terus tiba tiba gue ngerasa kayak lagi ngomong sendiri. Dia kayaknya syok gitu" jelas vita.
"itu kan...." gen melihat sesuatu dari arah jalan sepi didepan rumah tasya. ia menjatuhkan pandangannya kesebuah pita rambut berwarna biru yang tergeletak detepi jalan. gen langsung mematikan handphone-nya dan bergegas mengambil pita itu. "tasya" tukas gen yang langsung beranjak kearah hutan dekat rumah tasya.
"genta! ayah, genta..." pekik bunda tasya yang semakin panik tak karuan.
"udah bun, genta pasti tau tasya kemana" ucap ayah tasya berusaha menenangkan bunda.

"tasya!" jerit gen terus memanggil tasya di hutan yang semakin gelap itu. "hah" gen mengatur nafas sesaat. "lo dimana sih sya?" gumam gen beristirahat sejenak dibawah pepohonan.
"gen" panggil sebuah suara yang terdengar parau.
gen mengalihkan pandangannya kebelakang. kearah suara lemah yang memanggilnya.
"tasya" pekik gen seraya menghampiri suara itu. suara tasya yang telah terbujur kaku ditepi sungai.
"sya, lo ak papa kan?" gen mendekap tubuh tasya dengan penuh kehangatan
"gen" panggil tasya pelan.
"iya"
"gue kedinginan" gumam tasya perlahan memejamkan matanya.
"sya, lo tahan bentar ya. gue bakal bawa lo balik" ujar gen sembari menggendong tasya. membawanya keluar dari hutan.

bagian 9

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Post a Comment for "cinta seindah rumah pohon ( part 8 )"