Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cinta seindah rumah pohon ( part 4 )




"ih.... dimana sih?!" keluh tasya me-nundukkan kepalanya sembari men-cari cari uang sakunya yang hilang direrumputan depan beranda kelas-nya "AH!" tasya terduduk kecewa direrumputan
"ehemh. ilang duit lagi ya?" sindir gen yang telah berdiri dibelakang tasya
"iya nih. duit gue ilang" jawab tasya terus mencari cari uangnya
"kasian ya" sindir gen kembali
"HAH!" tasya terkejut begitu memba-likkan badannya kebelakang gen telah berdiri dihadapannya dengan senyum sinis "lo?!" tasya merasa terkejut ber-campur malu dengan jawabannya atas
gen barusan.
"apa? mau berantem lagi???" gen me-mancing amarah tasya
"lo beruntung. hari ini gue lagi males berantem sama lo" jawab tasya lesu
"kenapa? karena keilangan duit?" sindir gen menertawai tingkah laku tasya yang teledor dan pelupa itu
"yuk" ajak gen sembari menarik tangan tasya
"eh, eh. lo mau ngajak gue kemana?" tasya keheranan
"em... mau ngajak lo pulang." jelas gen melepaskan tangan tasya kembali
"gak perlu. gue dijemput ayah kok." ucap tasya sembari membalikkan badan dengan kedua tangan dilipat setinggi dada
"masih marah ya dengan yang kemari"
bisik gen dari belakang sambil meng-genggam lengan tasya dengan dagu yang ia topangkan dipundak kanan tasya. "maaf ya" pinta gen lembut
"gak perlu munta maaf kalik. guekan anjing " ucap tasya balik memandang gen dengan tatapan kesal
"yaudah deh, gue pulang sendiri aja. tapi kayaknya lo gak bakal dijemput deh" kata gen dengan alis mata terangkat
"gue gak bakal ketipu sama omongan lo" tukas tasya menunjuk wajah gen dengan perasaan sebal
"siapa yang mau nipu lo? Ayah lo sen-diri yang nyuruh gue nganterin anak perawannya" gen tersenyum licik kearah tasya
"ogah gue pulang sama lo! Mending gue jalan kaki" tolak tasya mentah mentah
"susah bujuk lo" gumam gen menarik tangan tasya dan membawanya pergi.
"ih! Lepasin!" tasya meronta berusaha melepaskan tangannya dari gengga-man gen "lo doyan amat sih narik natik tangan gue!" hujat tasya jengkel
"kalau lo gak mau, gue bakal bilang sama bunda and ayah lo kalau lo yang
udah gigit tangan gue sampek diperban
Biar sekalian lo gak dapet uang jajan." ancam gen tanpa menghiraukan keadaan tasya.
"eh. Iya,iya. Gue pulang sama lo deh" jawab tasya pada akhirnya
"dari tadi kek. Waktu kitakan jadi dikit" keluh gen terus memandang jam tangan mahalnya.

"huh" tasya menghela nafas kasar di-dalam mobil gen yang terasa sangat membosankan itu.
oh iya. Soal itu.... Gue tanya aja
deh.
"em.... Gen... nanya dikit boleh gak?" tanya tasya beberapa kali mengedip-kan mata lentiknya
"nanya apa?"
"e......lo kan tinggal dirumah genta"
"....... Terus? Kenapa?" tanya gen mulai dingin
"ya.... Gak papa sih. Cuma gue rasanya belum liat dia aja"
"perasaan lo aja kalik"
"gue serius gen. Gue gak bohong."
"oh ya?"
"iya. Masak lo gak percaya sama gue?! Padahal dulu.... gue sama dia temenan akrab banget" tasya menatap mata gen dengan berkaca kaca
"mungkin dia lagi ada kerjaan kalik" ucap gen mengalihkan pandangannya ke depan
"tapi kok kerjaannya gak selesai selesai
Sih? Gen lo kan tinggal disana, tolong bilangin dong sama dia. Dia udah jan-ji sama gue mau main bareng gue, mau baca cerita gue... Tapi dia gak dateng. Gen tolong" pinta tasya terlihat sangat tulus
"gak janji"
" please"
"iya!" bentak gen kesal
"gak perlu marah juga kan?" keluh tasya menopang dagu

sampai dipertigaan jalan, gen mem-banting stirnya kearah kanan yang berlawanan dengan arah rumahnya dan tasya.
"woi! Rumah gue disana!" tasya menunjuk kearah sebrang jalan
"emang siapa yang mau ngajak lo balik?"
"Terus lo mau ngajak gue kemana?" tasya mulai ketakutan
"liat aja entar" jawab gen tersenyum licik.



"ini gimana?" tanya tasya sembari menunjukkan gaun panjang berwar-na biru muda yang sedang dikenakannya
"gak. Lo gak cocok pakek baju itu" jawab gen dengan gampangnya
"eh! Ini baju ke 7 yang udah gue coba! Tapi lo cuma bilang, gak! gak cocok! Ganti!!! Terus lo maunya gue pakek baju apa?!" keluh tasya jengkel dengan
Sikap gen yang terus memaksanya mengenakan pakaian pakaian mewah tanpa memberi tau untuk apa ia harus
mengenakannya. Sebenarnya hanya satu kekhawatiran tasya. Yaitu, PAKAI APA TASYA HARUS BAYAR?!!!
"kalau gue bilang gak! Ya enggak! Nih. Lo coba yang ini aja!" seru gen menyo-dorkan sebuah gaun pada tasya

"tap tap tap...." langkah tasya terdengar
nyaring saat ia membuka tirai peng-gantian baju dan melangkah mendekat
kearah gen
"nih gimana bagus gak?" tanya tasya menunjukan sebuah gaun setinggi lutut yang ia pakai
"em..... OK" akhirnya gen memberikan respon positif.
"huh" tasya menarik nafas lega. "berarti sekarang kita bisa pulang" pekik tasya girang.
"sekarang kita beli sepatu" ucap gen menguras kembali kegirangan tasya
"ha?! Gen gue udah gak tahan! Lo pingin gue mati ya?!"
"yes" jawab gen sesingkat mungkin
"ih! Lo bikin gue darah tinggi tau gak!"
"tau" ucap gen sambil melihat lihat jejeran sepatu yang tersusun rapih di rak rak sepatu dimall itu
"lo ngeselin banget sih gen!"
"emang"
"uh! Gue udah kesel! Kalau lo gak mau
nganterin gue pulang yaudah. Gue bisa pulang sendiri kok." gerang tasya
"emang lo tau jalan pulang?" gen mengingatkan tasya bahwa itu adalah pertama kalinya tasya pergi ke mall itu
"o.... emm.... Gue bisa naik taxi" jawab tasya sombong
" uangnya ?" tanya gen tanpa melirik kearah tasya
"uang?"tasya tak mengerti
"emang lo punya uang?" tanya meme-tik metikan jarinya
gue lupa soal itu.
"nih cobain" gen menjulurkan sebuah sepatu hak tinggi
"huh" tasya menghela nafas kembali



"ciiitttt!!!" mobil gen terhenti didepan halaman rumah tasya
"nih. Entar malem lo pakek biar keliatan rapih" ujar gen sembari mem-berikan sebuah kantung berlabel mall yamg tadi mereka kunjungi
"jadi maksud lo gue gak rapih gitu?" keluh tasya menekuk bibirnya.
"iya"
"uh!" tasya mengerutu
"jangan lupa entar malem dandan yang cantik. Kalau perlu angkat aja salonnya kerumah" canda gen memancing senyum merekah diwajah tasya.
"emang kenapa harus cantik?"
"lo tanya aja sama bunda. Lo mau ketemu genta kan?"
"iya tapi...."
"ngeeeennngggg!" belum sempat tasya melanjutkan perkataannya, gen sudah
terlebih dulu melajukan mobilnya untuk pergi kembali.




"ckrek" tasya membuka pintu kamar-nya.
"hem" tasya merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil menatap langit langit kamar. Menerawang kembali hari yang sangat melelahkan itu. Sesa-at kemudian tasya telah tenggelam dalam mimpi mimpinya.
"ckrek" pintu kamar itu terbuka kembali
"tap tap tap...." sebuah langkah kaki terdengar mulai mendekat kearah tasya
"tasya ayo bangun" seru sebuah suara yang sudah tasya hafal betul.
"iya bun. Ada apa sih?" tanya tasya dengan rasa kantuk yang masih menerpanya
"ayo cepet bangun. Mandi terus dandan yang cantik" ucap bunda berusaha membuat tasya bangun dari tempat tidurnya
"emang mau kemana sih? Bunda juga rapih amat" tanya tasya penasaran
"kita mau makan malem dirumah genta" jelas bunda seraya menyodor-kan handuk pada tasya "cepet mandi" seru bunda memberi perintah
"iya" ucap tasya datar

"nah. Sekarang kamu udah cantik" puji bunda yang sedari tadi telah membantu tasya berdandan. Maklum-lah, ini pertama kalinya tasya bersedia
untuk didandani bunda
"bun, gak perlu dandan selebai ini kali. Kan cuma makan malam"
"memang kalau cuma makan malam kamu gak boleh dandan?"
"makan malamnya jam berapa sih? Buru buru amat. Ini kan masih sore" keluh tasya merasa risih harus mema-kai sepatu hak tinggi pilihan bunda.
"bun gak perlu pakek hak tinggi juga kan?"
"sudah dipakek aja. Warnanya bagus kok" puji bunda tersenyum tipis.
"tapi risih bun"
"enggak kok. Udah cepet kamu siap siap. Bunda duluan ya nanti kamu nyusul. Inget jangan lama lama." gumam bunda seraya menutup pintu kamar tasya dan beranjak pergi.
"kayaknya kurang bagus. Em... Apa gue pakek baju yang tadi aja ya?" gu-mam tasya sembari memperhatikan pakayan dan dandanannya dihada-pan sebuah cermin setinggi kepalanya.



"tap tap tap..." tasya memasuki pintu rumah genta yang telah terbuka lebar dihadapannya.
"hah?" tasya merasa terkejut melihat hampir semua teman temannya telah berada disana dengan mengenakan pakaian pakaian formal yang terlihat rapih nan elegan.
ini yang dibilang makan malam?
cuma makan malam? Gue rasa ini
ini makan malamnya orang kaya
berjamaah.
Tasya yang terhenyang melihat keadaan disekitarnya tak sadar bahwa
semua pandangan mata tertuju pada-nya. Dengan mengenakan gaun merah
hati selutut dan hak tinggi berwarna silver pilihan gen untuknya, tasya menjadi sorot pandang utama dalam pesta itu.
"WOW! Tasya lo cantik banget!" puji vita seraya menghampiri tasya yang baru bergabung dalam pesta
"vita. Lo juga ada disini?" tasya tasya sedikit heran.
"ya iya lah. Ya kalik gue tinggalin kesempatan makan enak" jawab vita sambil mengunyah pancake coklat yang ia ambil dari meja hidangan terdekat
"kok lo gak cerita kalau ada pesta segede ini disini?. Disamping rumah gue?!" gerutu tasya
"ya sorry sya. Lo juga sih, datengnya telat mulu. Jadi telat informasi kan?"
"hem" tasya menghela nafas kasar.
ya ampun gue harus apa? Ini pesta
apa aja gue gak tau. Hem.... Segitu
bodohnya ya gue?
"tasya" panggil bunda dari kejauhan"
"eh vit gue dicariin bunda tuh gue kesana dulu ya bye" ucap tasya seraya mendekat kearah bunda

"iya bun" tasya menghampiri bunda dan ayah yang sedang bercengkrama dengan seorang pria beraut wajah ramah dan bibir merahnya yang terse-nyum merekah.
"tasya. ini genta. kamu mau ketemu kan?" kata bunda menunjuk kearah seorang pria yang baru saja ia ajak bicara.
"g.... gen" panggilan itu terdengar parau keluar dari bibir mungil tasya yang terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
gen. genta? genta yang selalu parno
ngeliat gue. ama si gen yang nakutin
itu orang yang sama?! GAK! BISA!
DIPERCAYA!
"woi. ngapa lo ngeliatin gue gitu? ada yang salah?" tanya gen sambil melam-bai lambaikan tangannya dihadapan wajah tasya yang mulutnya telah terperangak lebar.
"banyak" jawab tasya memandang gen dengan tatapan kosong.
"salah gimana?" gen memicingkan matanya kearah tasya.
"ya salah lah. lo? genta?" tasya memu-kul pelan wajah gen "lo mah gen. si KEPALA BATU!" tambah tasya menarik hidung mancung gen.
"auw! sakit!" keluh gen kesal
"ah masa? perasaan biasa aja" bantah tasya sembari menarik pelan hidung-nya sendiri.
"ya beda lah! lo kan pesek, jadi gak ketarik" tukas gen membentak
"alah mau semancung apa juga lo tetep
orang Indonesia real. real, nyungsep kedalem." tasya tersenyum sambil terus menarik hidung mancung gen yang terasa lucu baginya
"hem" gen tersenyum memandang mata tasya. lalu ia memegang kedua tangan tasya dan ia topang kan dibahunya "mau dansa sama gue gak?" tanya gen lembut.
"eh" tasya melirik kearah orang orang didekatnya yng tanpa ia sadari telah memperhatikannya dan gen sedari tadi.
"ya..... itung itung kado ulang tahun lah" bisik gen tepat ditelinga tasya.
"kado? u.... ulang tahun?" tasya terbata
bata. "hah! lo ulang tahun?" teka tasya
sedikit kaget
"hem..... lemot banget sih lo" ucap gen sembari memutar mutar tubuh tasya dalam gerakan dansa itu. tasya yang tak tau apa yang harus ia lakukan hanya dapat mengikuti gerakan gen yang terus mengajaknya berdansa di tengah ruang.



"lagi ngapain?" tanya gen pada tasya seraya mengambil posisi duduk diatas rumah pohon dengan masih mengena-kan pakaian pestanya tadi sore.
"a? enggak. gak papa" jawab tasya canggung
"hem" gen menghela nafas
"oh iya gen makasih ya" ucap tasya
"makasih? buat apa?" pancing gen sambil memetik beberapa daun dari bunga yang tasya taruh di rumah pohon itu
"ya..... makasih karena lo..... udah buat gue serasa jadi putri hari ini" tasya tersenyum bahagia
"putri? putri apaan? putri ling lung?" canda gen menyentil pelan kepala tasya
"terserah lo. yang penting gue happy" ujar tasya menepuk tangan.
"hah" tasya menghela nafas sesaat.
"alah itu juga karena gue yang milihin
pakayan itu buat lo" sambar gen menujuk pakaian yang sedang dikena-kan tasya
"iya sekalian bikin gue darah tinggi" gerutu tasya sambil mengayun kaki-nya dipinggir pintu rumah pohon itu.
"jadi gak mau bilang makasih nih?"
"em...... Thank's" ucap tasya dengan tangan yang ia lipat setinggi dada
"dingin ya?" tanya gen lembut
"em" tasya mengangguk pelan
"srek" gen melucuti jas hitamnya
""lebai banget sih lo. Pakek acara lepas jas segala. Kayak film jadul tau gak" celoteh tasya menahan tawa melihat gen melepas kan jas hitamnya
"jadul? Film? Maksud lo?" tanya gen tak mengerti
"ya..... Iya. Nih gue tebak, lo pasti bakal nyelimutin jas lo kebahu gue Iya kan?"
teka tasya menunjuk wajah gen.
"ngimpi lo. Orang gue mau balik, mau ganti baju. Ya kalau lo kedinginan pulang aja" ucap gen dan langsung pergi meninggalkan tasya
"ih! Ngeselin banget sih! Udah bikin gue malu, ninggalin lagi! Emang dasar gak bisa dipancing tuh orang!" gerutu tasya sebal.

bagian 5

Post a Comment for "Cinta seindah rumah pohon ( part 4 )"