Cinta seindah rumah pohon ( part 5 )
"tasya" sapa vita seraya melangkah mendekati tasya yang sedang meme-gang buku pelajaran ditangannya.
"eh lo vit, ada apa?" tanya tasya dengan pandangan mata sedikit berat.
"lo gak tidur ya?" teka vita
"a? Eng....." tasya mencari cari alasan.
"jangan jangan lo semalaman diru-mah gen ya?"
"enggak....." jawab tasya menggaruk garuk kepalanya "emang ada apa sih?"
tasya mengubah topik pembicaraan
"PRAK!" vita menepuk meja tasya
"gue bawa berita HOT mau denger gak?" ujar vita bersemangat
"a? E...... Entar aja ya. Gue lagi sibuk nih" tolak tasya sembari membuka buku pelajarannya
"ih! Dengerin dulu ini penting" ucap vita tergebu gebu
"apa?" tanya tasya acuh tak acuh
"ini tentang gen." kata vita tersenyum penuh peng hayatan
"Gen? Gen kenpa?!" tanya tanya penasaran
"toh kan lo penasaran. Penasaran kan lo?" goda vita
"vita!" gerutu tasya melotot
"ok, ok. Tenang" vita berusaha mene-nangkan tasya yang terlihat ingin menangis itu. " ternyata, si ganteng gen itu pindahan dari NEW YORK! Dia selalu dapet juara kelas dan jadi idolanya cewek cewek. Keluarganya punya perusahaan besar di New york. So pasati sebagai anak tunggal, dia bakal jadi penerus ayahnya yang kaya raya itu" jelas vita panjang lebar.
"oh. Kirain apaan" gumam tasya yang terlihat kurang puas dengan apa yang ia dengar
"loh, lo kok biasa aja sih? Nih ya, gue udah nyeritain ini ke sepuluh siswa. Dan semuanya terperangak kecuali lo"
ujar vita terus mengguncang guncang bahu tasya.
"em? Oh,Ya. gue terperangak. Hahaha" jawab tasya datar
"lo kenapa sih? Biasanya kalau gue nyeritain tentang gen lo yang paling semangat" tanya vita kecewa melihat respon tasya yang biasa biasa saja mendengar berita up datenya
"hem.... Sayangnya gue udah tau duluan" ujar tasya memasang senyum liciknya kearah vita
"ah gak mungkin"
"mungkin aja" sahut tasya hampir tanpa expresi.
"tasya! gertak vita sebal
"yang manis, cantik,dan imut" tambah tasya sambil tersenyum manis.
"gue serius. Gue aja baru tau dari satpam botak. Nyogok gocap lagi. Eh, tiba tiba lonya udah tau duluan. Tau dari mana coba?"
"gue kan tetangganya jelas gue tau lah"
"oh iya gue lupa. Tau gitu mah gue gak perlu nyogok. Kan lumayan gocap, bisa neraktir satu kelas"
"gocap mau neraktir apaan?" tanya tasya bingung
"permen, satu satu. Yang gopek tiga"
"ngarang lo"
"hm, jadi boleh dong gue main keru-mah lo entar abis pulang sekolah"
"boro boro.gue aja dianter jemput sama dia"
"sama gen?" tanya vita tak percaya
"em" tasya mengangguk pelan
"yah. Menang banyak dong lo" keluh vita memanyunkan wajahnya
"menang banyak apaan? Rugi iya" bantah tasya menggerutu
"jadi lo gak suka sama gen?" sambar seseorang sembari mengambil posisi duduk disamping tasya
"gak" jawab tasya dengan santinya
"gak takut rugi?" tanya orang asing itu lagi
"enggak. Kalau lo mau simpen aja" ucap tasya seraya membalikan badannya kesamping memandang orang tersebut
"gak nyesel?" tanya orang itu lagi. Yang tidak lain adalah gen yang dengan asiknya membalikan lembar demi lembar novel love storynya
"eng..." tasya kehilangan kata katanya
mati gue! Masak gue sampek gak
ngenalin suaranya gen sih?! Em.....
ganti topik baru! Itu cara yang
lebih baik.
"masa cowok ganteng, cool, tapi bacanya novel love story" sindir tasya sok berani
"ganteng?" ulang gen menyondong-kan tubuhnya kearah tasya. Menjarakan wajahnya dan tasya hanya sejengal lebih jauh.
"a? S..... Siapa bilang? Menurut gue lo biasa aja kok" elak tasya yang sudah mulai pucat dan gemetaran. Tasya menarik bangkunya menjauh dari dekat gen "kalau jadi siswa itu kayak gue dong. Yang dibaca itu buku biologi" kata tasya membuka buku yang sedari tadi telah dipegangnya.
"biologi atau matematika?" sindir gen memberatkan suaranya
"a? Oh, iya. Maksud gue matematika." ucap tasya menggigit bibir bawahnya
"eh cewek oon. Lo itu dari tadi megang buku sejarah." gumam gen mengangkat sebelah alisnya.
"ha?" tasya membalikan sampul bukunya dengan perasaan malu untuk
menatap gen kembali
BODOHNYA GUE!!!
untuk sesaat tasya hanya terdiam danmendongkol sendiri didalam hati atas kebodohan yang ia mulai sendiri.
"lagian mana ada sih buku pelajaran yang didalamnya keselip komik" gumam gen yang semakin membuat tasya terpojok
"tap tap tap" tiba tiba sebuah langkah kaki hadir ditengah tengah pembicaraan mereka
"hm.... Hai gen" sapa seorang gadis cantik berambut panjang dengan pita pink menghiasi rambut indahnya.
"hai" sahut gen tersenyum tipis.
"kenalin. Nama gue Dara, anak kelas sebelah" kata gadis itu sembari menjulurkan tangannya kearah gen.
"gen" gen menjabat tangan dara dengan ramahnya
"gue bisa pinjem tasya sebentar gak?" pinta dara tanpa basa basi sedikitpun
"a? Oh ya. Bawa aja kantongin juga gak papa kok" jawab gen sedikit bercanda
"yuk tasya" dara mengajak tasya beranjak dari kelasnya
"i...i..... Iya" sahut tasya gelagapan
Dara mengajak tasya pergi kebangunan kosong dibelakang kelas tasya.
"tasya, tasya, tasya. Lo tau kan siapa gue?" ucap dara yang memandang tasya dengan senyum licik seraya terus
memojokan tasya kedinding bangunan
dibelakangnya.
"i.... Iya"jawab tasya terbata bata
"gue, dara. Gue punya pengaruh khusus disekolah ini. Semua yang gue mau, harus gue dapetin. Dan gue, mau gen. Jadi lo harus jauhin dia. Karena gen cuma boleh jadi punya gue" ancam dara menekan kuat dagu tasya
"g..... Gue gak pernah deketin gen." ucap tasya yang terus menangis tersedu sedu.
"gue gak tau urusan. Yang jelas, lo harus jauhin gen. Lo ngerti?!" bentak dara membuat canggung tasya.
"em" tasya mengangguk pelan.
"satu lagi. Tasya, lo gak usah sok kecantikan deh. Karena apa? Karena lo cuma cewek bodoh, oon dan GAK BERGUNA! Dan gen gak mungkin nau sama lo." seru dara yang membuat tasya terdiam membisu. dan dengan santainya langsung meninggalkan tasya yang wajahnya telah memucat pasih.
"gue boleh naik gak?" tanya gen pada tasya yang tengah duduk terhenyang diatas rumah pohonnya
"naik aja. Lagian lo juga gak bisa dibantahkan" gumam tasya dengan tatapan kosongnya memandang langit mendung diatas kepalanya
"Hei, lo kenapa sih kok sepi amat?" tegur gen lembut
"a? Eng.... Gak papa" jawab tasya tersenyum terpaksa "em.... Gen, gue boleh nanya gak?" tanya tasya terlihat sedih.
"nanya apa?"
"gen, apa menurut lo gue cuma cewek oon yang gak berguna?"
"lo ngomong apa sih? Tegang amat"
"gen, tolong jawab gue" pinta tasya kembali menangis
"menurut gue...... Lo..... cukup berguna kok" ujar gen sesaat kemudian.
"lo bohong"
"loh. siapa bilang?"
"gue barusan"
"tenang aja, gue jarang bohong kok"
"lo cuma mau ngehibur gue aja kan?"
"enggak. menurut gue lo selalu berguna kok. buat jadi temen ribut tiaphari"
"apaan sih?" tasya tersenyum merona
"gitu dong. kalau senyum kan lo tambah cantik" puji gen sambil mengelus pelan rambut panjang tasya.
yaampun! gen muji gue. Ah....
rasanya jantung gue mau copot!

cerita yang menarik :)
ReplyDeletekayanya blog kita punya kesamaan, khususnya dari tema dan templatenya. silahkan kunjungi blog saya ulatpena.blogspot.com :D