Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cinta seindah rumah pohon ( part 6 )

Bagian 6


tasya yang sedang duduk diatas kursi belajarnya terlihat sedang asik tersenyum memandang sesuatu dari arah bawah kaca jendela kamarnya.
"DOOORRR!" vita mengageti tasya yang sedang duduk melamun sendirian.
"uh. Vita. Gue kirain siapa. Kapan lo nyampek?"
"dari tadi. Lo kenapa sih, gue perhatiin senyum senyum mulu"
"a? Enggak kok. Gue gak ngapa ngapain" elak tasya
"yakin gak ada apa apa?"
"iya"
"yaudah awas gue mau liat apa yang buat lo ngelamun" ujar vita mencoba menengok kearah luar kaca jendela
"em.... Pantesan senyum melulu. Ada si gen" goda vita
"apaan sih. Gue gak merhatiin dia kok"
"oh ya? GEN!!!" pekik vita dari atas balkon kamar tasya
"aduh vit, gen itu dari tadi makek headsed. Jadi gak mungkin dia denger teriakan lo. "
"tuh kan ketauan"
"a? Eng...." tasya mencari cari alasan
"gue paham. Pasti sekarang lo udah terkina sinyal cintanya pangeran gen. Iya kan?"
"sok tau lo" bantah tasya tersipu malu
"ehm. Gengsi" sindir vita
"au ah" ucap tasya seraya bangkit dari posisi duduknya dan mulai beranjak pergi
"lo mau kemana?" tanya vita penasaran
"em.... Kayaknya ketaman bunga seru deh" gumam tasya setelah berfikir sejenak.
"gak takut kena marah sama bunda lo?"
"aneh kan. Tiba tiba bunda ngeboleh-hin gue keluar"
"tapi....."
"udah ayo. Bunda cuma bolehin jalan selama 3 jam" ujar tasya seraya menarik tangan vita pergi

"tap tap tap" tasya dan vita menuruni anak tangga satu persatu bersama sama.
"BUN..... AKU SAMA VITA JALAN YA ASALAMUALIKUM" jerit tasya seraya berjalan kearah pintu depan.
"tunggu dulu" sambar bunda serentak menghentikan langkah tasya dan vita
"ada apa bun?"
"kalian jalan ber2 aja?"
"iya. Emangnya kenapa?"
"kalian kan anak gadis, masa jalan sendirian? Nanti kalau kenapa kenapa
gimana?"
"jadi kita gak boleh jalan nih?"
"siapa bilang? Boleh kok"
"yes" tasya mengepalkan tangannya.
"tapi jalannya sama genta"
"sya. Genta siapa?" tanya vita berbisik.
"genta itu..... Si.... Gen"
"ha? Serius? kita bakal jalan sama gen. Oh My God! Ini bakal jadi hari paling bersejarah dalam hidup gue" celoteh vita kegirangan
"lebai lo" hujat tasya jengkel
"jadi gentanya mana bun?" tanya tasya pada bunda
"tuh udah nunggu diruang tamu" jawab bunda seraya menunjuk kearah
seorang pria yang terlihat sedang menunggu seseorang.
"hai" sapa gen sembari melambaikan tangan kearah tasya dan vita dengan senyum merekah diwajahnya
"hai" vita membalas sapaan gen sambil beberapa kali mengedipkan matanya.
"centil banget sih lo!" tegur tasya ketus.
"huh. Bilang aja cemburu" sahut vita. yang membuat wajah tasya menjadi kemerahan.
"sok tau lo!" bantah tasya tegas.
"tau dong. Gue kan paranormal"
"woi mau jalan gak?! Gue sibuk nih!" bentak gen sesaat setelah bunda tasya meninggalkan ruangan.
"dasar cowok bawel!" gerutu tasya kesal.
"apa lo bilang?"
"gak. Gak ada" jawab tasya memelankan suaranya.



"bunganya bagus bagus ya" ucap tasya yang sedang bingung memilih salah satu bunga dari hamparan bunga bunga indah ditaman bunga itu.
"menurut kalian mana yang bagus?" tanya tasya meminta pendapat gen dan vita.
"yang tadi tuh. Mawar yang warnanya merah" sahut vita.
"kalau mawar banyak durinya" jawab tasya menolak.
"emang buat apa sih sya?" tanya vita penasaran
"gak papa sih. Gue cuma pingin ngehias rumah pohon gue aja. Jadi bunganya perlu yang hidup"
"oh kirain buat apaan. Biasanyakan lo paling suka bunga mawar"
"em.... Gen, kalau menurut lo yang mana yang bagus?" tanya tasya pada gen yang sedang asik memainkan handphone-nya.
"a? Oh iya. Em.... Bunga yang.... Yang itu tuh" gen menunjuk kesebuah bunga yang berada tepat dibelakang tasya.
"mhm. Yang itu?" tasya menahan tawa
"iya. Yang itu aja. Bunganya bagus kok" saran gen meyakinkan.
"gen sayang, itu bunga kamboja" jelas vita sedikit genit.
"loh emangnya kenapa dengan bunga kamboja?"
"itu bunga buat makam. Buat ngelayat" ucap tasya.
"oh" gumam gen, berusaha mempertahankan reputasi ke-coolannya yang sudah hampir tergusur habis.
"lo lucu ya kalau lagi malu maluin" ejek tasya.
"ini yang pertama buat gue. Tapi lo, udah lebih dari 7 bikin malu yang lebih parah dari ini" sindir gen, menarik pelan hidung tasya
"emhm" vita menertawai tingkah laku ke2 temannya yang sama sama aneh itu.
"ih. Vita. Ngeliat temen dihina malah ketawa. Ngeselin banget sih" gerutu tasya sebal.

"drrrreeeeeettttt" handphone vita berdering.
"bunyi tuh" gen memberi tau
"iya" vita membuka pesan di handphone-nya. " eh, gen. entar langsung anterin gue pulang aja ya. nyokab udah ngomel ngomel nih" pinta vita.
"iya. gue juga udah mau balik nih. woi! cewek linglung. lo udah selesai belum? milih satu aja lama amat" hujat gen. memandang sebal kearah tasya.
"lo ngomongin gue linglung?" tanya tasya jengkel.
"ya iyalah. emang lo linglung kan?"
"ih! lo...."
"udah gak usah ngerebutin gue. Keburu mau pulang nih. Maklum, orang penting." sambar vita menghintikan kericuhan antara tasya dan gen.
"emang siapa yang mentingin lo vit?" ledek tasya.
"tasya...." vita menggerutu.
"iya iya. Gue udah milih nih" ucap tasya sembari mengangkat sebuah pot bunga berukuaran sedang.
"yaudah cepet bayar sana" perintah vita.
"iya sabar" ujar tasya seraya berjalan kearah tempat pembayaran

"ba saya mau beli bunga ini" ucap tasya pada seorang kasir.
"mau beli berapa ba" tanya kasir itu.
"em..... 2 deh"
"semuanya seratus lima puluh ribu"
"nih ba. Makasih" tasya mengambil 2 buah pot bunga yang telah dia beli, lalu beranjak pergi ke parkiran tempat vita dan gen yang telah menunggunya cukup lama.

"tap tap tap" tasya menghampiri vita yang sedang duduk menunggunya didekat parkiran.
"loh. Vit, lo sendirian?" tanya tasya celingukan mencari gen.
"iya. gak tau gen kemana. Bilangnya
sih mau ke toilet" jawab vita merunduk sebal.
"ehm. Kayaknya ada yang ngerumpiin gue nih" sahut gen yang tiba tiba datang entah dari mana.
"lama lo" keluh tasya jengkel.
"lo mau gue tinggal?" ancam gen dengan santainya.

BRENGSEK!

"huh" tasya menghela nafas kasar


Post a Comment for "Cinta seindah rumah pohon ( part 6 )"