Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

cinta seindah rumah pohon ( part 7 )




"dap" tasya menutup pintu mobil gen dan langsung beranjak pergi dari parkiran sekolah.
"eh, lo tau gak sih. tuh si tasya abis kena amukan dara" bisik beberapa orang gadis yang berada tak jauh dari tempat tasya berdiri.
tasya terus berjalan menunduk. air matanya hampir tumpah mendengar gosip gosip yang tertuju padanya itu.
"tap" gen menarik tasya kedekatnya
"apaan sih" tasya berusaha menutupi mata sembabnya.
"gue mau nanya sesuatu" ujar gen pelan.
"tentang apa?"
"tentang..... Tentang dara"
"ha!" tasya terkejut.
"jawab gue. Sebenernya siapa dia? Apa yang udah dia lakuin ke lo?" tanya gen dingin.
"gen...."
"jawab gue!" sambar gen meninggikan suaranya.
"gue gak tau siapa dia. Dan gue gak ada urusan sama dia" jawab tasya tersedu sedu.
"lo...."
"please. Jangan tanya ini lagi ke gue." pinta tasya memandang haru gen.
"........ Hem" gen mengangguk pelan

~~~~~

"gimana bunga lo sya" tanya vita pada tasya yang terlihat sangat murung.
"layu"jawab tasya lesu.
"oh pantes keliatan ramek" sahut gen.
"gak perlu ejekan" protes tasya.
"siapa yang ngejek lo? kurang kerjaan amat" bantah gen.
"nyebelin banget sih lo"
"emang iya"
"belagu lo."
"teledor"
"dingin!"
"manja"
"sok tau!!"
"gak tau apa apa"
"ih!!! lo......"
"tasya lo dicariin dara tuh" ucap seorang gadis menghentikan perkataan tasya.
"gu..... Gue?"
"iya"
"dimana?"
"dikantin"
"yaudah gue kesana sekarang" ujar tasya yang langsung bangkit dari bangkunya.

"tap tap tap." langkah tasya terhenti dihadapan beberapa gadis dengan dara yang berdiri tepat ditengah tengah mereka.
"e.... Elo manggil gue ra?" tanya tasya terbata bata.
"pakek nanya lagi! Ya iya lah!" bentak dara kesal.
"a..... ada apa?"
"lelet banget sih lo! Gue ngomong sama lo kayak lagi ngomong sama orang bego. Ups. Maaf. Orang oon" celoteh dara yang disambut tawa oleh teman temannya.
"prok prok prok" dara menepuk nepuk tangannya seraya memutari tubuh tasya yang terdiam tegang.
"udah gue bilangkan sama lo? Gen cuma boleh jadi punya gue. PUNYA GUE" seka dara sambil memain mainkan rambut tasya. "kalau lo masih deket deket sama gen, gue bakal...."
"bakal apa?" sambar gen yang mulai melangkah kearah mereka.
"gen"
"iya gue. kenapa? lo ngapain barusan?" tanya gen dingin.
" gue cuma..... nanya dia doang kok" jawab dara gelagapan.
"hemm. gue udah liat semuanya kok" ujar gen tersenyum sinis. "denger ya dara, lo bukan tuhan. bahkan lo bukan siapa siapa. dan lo gak berhak ngatur hidup orang lain." seru gen.
"gen gue cuma....."
"gue gak suka lo ngancem tasya" gen menarik tangan tasya dan mengajak-nya pergi.
"lo pilih kasih gen" cela dara serentak menghentikan langkah gen yang langsung berbalik memandangnya.
"apa lo bilang? pilih kasih?"
"ya lo pilih kasih!"
"Dara, gue baru kenal sama lo, dan lo minta dikasihanin? ok. gue kasihan sama lo" ucap gen pedas.
"gen , lo tau kan semua cewek disini suka sama lo? tapi kenapa kenapa lo cuma perhatian sama tasya? gue juga suka sama lo"
"suka?"
"bukan cuma suka, gue juga cinta sama lo. dan lo juga harus cinta sama gue" paksa dara.
"ha? ehmem." gen menahan tawa. "cinta bukan buat dipaksain. dan cinta harusnya GAK NYUSAHIN ORANG LAIN. tapi lo langgar semuanya. dan hak gue dong harus suka dan cinta sama siapa" tegas gen memandang manis tasya sekejap kemudian gen menggandeng tangan tasya dan membawanya pergi bersamanya.

ow.... gen ngebelain gue. dan lagi
lagi dia jadi orang pertama yang
hapus air mata gue. so sweet.

"gen makasih ya. lo udah ngebela gue" gumam tasya dengan tangan yang masih digenggam erat oleh gen.
"lo jadi cewek bodoh banget sih!" gerang gen kasar.
"apa?"
"yang gue liat, lo cuma bisa diem pas diancem sama mereka. lo jangan sok lugu deh."
"loh.kok lo malah nyalahin gue sih?"
"ya iya lah. gimana kalau gue tadi gak ada di sana?! lo bisa dicekek sama mereka. dan akhirnya lo cuma bisa jadi mayat"
"ya, makasih. atas pembelaan lo, gue gak harus jadi mayat. tapi karena lo, gue hampir mati mendadak!" ucap tasya menyeka air mata. lalu beranjak pergi meninggalkan gen.
"TASYA!"

~~~~~

"tok tok tok" suara ketukan pintu itu terdengar jelas dari luar pintu kamar tasya.
"sya ini gue vita"
Hening.
"gue masuk ya" vita meminta izin untuk masuk. dan membuka pintu kamar tasya. "ya ampun sya. kenapa kamar lo jadi berantakan gini sih?" vita terkejut melihat kamar tasya yang sudah sangat berantakan. "lo kenapa sih sya? cerita dong" bujuk vita.
"vit, emang gue segitu bodoh itu ya?" tanya tasya hampir tanpa ekspresi.
"lo kok nanya gitu sih? Kenapa? Lo ada masalah?" tanya vita lagi.
"a? Eggak. Gue cuma..." tasya menghentikan ucapannya sesaat setelah memikirkan sesuatu.
"cuma apa?"
"eng..... gak papa. cuma lagi suntuk aja" jawab tasya datar.
"yang semangat dong. oh iya, kok rumah pohon lo meriah amat? ada apa?" vita mengubah topik pembicaraan.
"serius lo vit?"
"lah lo gak tau? terus siapa yang ngedekor seramek itu?"
"eng...... gue gak tau. coba biar gue liat" ujar tasya seraya berlari kehalaman depan rumahnya.

"ha?" tasya tercengang melihat rumah pohonnya sudah penuh dengan bunga bunga indah yang tergantung berjejer didalam pot pot kecil diatas rumah pohonnya.
"tasya hah..... lo..... lari cepet banget" keluh vita dengan nafas yang terengah engah.
"siapa yang mesen bunga sebanyak ini?" gumam tasya heran.
"mungkin bunda lo kalik" teka vita sok tau.
"gak mungkin lah. bunda mana mau beli bunga sebanyak ini. bunda kan orangnya ngirit." bantah tasya.
"atau mungkin...."
"eh ada bunga mawar" tasya mengambil setangkai bunga mawar merah segar dengan sepucuk surat yang tersemat ditangkai bunga itu.

sorry karena udah buat lo sedih.
gue cuma gak suka aja ada yang
mau nyakitin lo. karena yang
berhak ngajak lo ribut cuma gue.
jadi jangan nangis lagi ya cewek
ling lung. :*

"cewek ling lung? siapa tuh?" goda vita.
"apaan sih vit" tasya tersipu malu.
"emang siapa yang suka manggil lo cewek ling lung?"
"gak ada "
"yakin? gue sih mikirnya gen"
"hemm" tasya tersenyum manis.
"tapi gak mungkin" lanjut vita.
"ih kok gak mungkin sih?!" gerutu tasya sebal.
"tuh kan kepancing" goda vita.
"a? enggak"
"alah sok malu malu lo"
"apaan sih"

Sikapmu yang selalu berubah itu
Menbuatku menggantung anganku
Ingin rasa aku pergi menjau darimu,
Namun lagi lagi kuterhenti tuk
menunggumu kembali.

bagian 8

Post a Comment for "cinta seindah rumah pohon ( part 7 )"